Selasa, 11 Januari 2022

"BUDAYA AIN NI AIN SEBAGAI TOLERANSI KEMANUSIAAN"


M. Ali Hanafi Katmas, S. Sos
(KADER GMNI DPC AMBON)

Sejak dahulu Kepulauan Kei tersohor sebagai kepulauan yang kaya akan Budaya bukan hanya kaya Budayanya melainkan juga kaya akan toleransinya. Pada kesempatan kali ini penulis tertarik untuk membahas salah satu Budaya yang sudah menjadi identitas pemersatu masyarakat Kepulauan Kei yang di kenal dengan Budaya Ain Ni Ain, dan terlebih dulu penulis akan menggambarkan sedikit tentang apa itu Ain Ni Ain. Secara etimologi Ain dalam bahasa Kei artinya “satu”, namun bukan tunggal tetapi jamak, sedangkan Ni berarti “punya atau memiliki”. Dan berdasarkan terminologi, maka Ain ni Ain berarti “satu memiliki satu”. Individu atau kelompok orang menempatkan/ memandang orang lain (liyan) sebagai saudaranya. Bisa juga diartikan sebagai, Ain yang sudah ada (yang asli) menempatkan dan menerima Ain “yang datang” sebagai saudaranya. Ain ni Ain merupakan falsafah hidup yang sangat berperan penting dalam kehidupan Masyarakat di Kepulauan Kei. Fungsinya adalah untuk membangun hubungan persatuan, kesatuan dan persaudaraan tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, ras, agama. Ain ni Ain merupakan dasar falsafah dalam mempererat kehidupan bersama dan hubungan kemanusiaan tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, ras dan agama dalam Masyarakat Kepulauan Kei yang telah terwariskan sejak dahulu. Ain ni Ain secara holistik dimaknai sebagai pemersatu. Mungkin secara gambarannya seperti itu. Lalu kenapa penulis tertarik untuk membahas Budaya Ain Ni Ain?

Adapun yang menarik penulis untuk membahas Budaya Ain Ni Ain adalah dikarenakan seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi Ain Ni Ain sudah berevolusi sebagai sebuah salam penghormatan dalam mukodima pada setiap kegiatan apapun di kalangan Masyarakat dan Mahasiswa Kepulauan Kei yang sedang merantau. Bukan hanya berevolusi sebagai sebuah salam penghormatan tetapi juga implementasi tidak sejalan dengan nilai-nilai atau esensi dari Budaya Ain Ni Ain tersebut. Kenapa demikian?. Karna menurut penulis, implementasi dari Budaya Ain Ni Ain hanya terjadi saat konflik antara suku dengan suku barulah falsafah Ain Ni Ain di lantunkan untuk mempersatukan Masyarakat Kepulauan Kei di daerah perantauan. Sehingga berbicara Ain Ni Ain dalam benak Masyarakat Kepulauan Kei di perantauan, penjelasan diatas merupakan contoh generasi mudah mengimplementasi Ain Ni Ain. Pertanyannya apakah Ain Ni Ain yang diwariskan leluhur adalah Budaya bakumpul untuk baku pukul atau perang dan membedakan suku, ras?. Lalu bagaimana dengan suku, ras arab, bugis dan lain sebagainya yang hidup bersama sekaligus bersatu dengan leluhur hingga sampai zaman kini, misalnya: Para leluhur Kepulauan Kei dalam mengimplementasi Budaya Ain Ni Ain dengan cara bakumpul bersama menunjukan kasih sayang dan hidup berdampingan tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, ras dan agama  sehingga mereka turut serta membangun masa depan Kepulauan Kei yang tercerahkan yang kita rasakan saat ini. Jika dipahami secara seksama dalam implementasi Ain Ni Ain antara generasi mudah dan leluhur terdahulu justru berbanding terbalik. Artinya: Para leluhur Kepulauan Kei dalam mengimplementasi Budaya Ain Ni Ain melampui zaman sedangkan generasi mudah tidaklah sesuai zamannya. Karena yang di implementasikan generasi mudah adalah sejarahnya sedangkan yang di implementasi laluhur adalah nilai atau Esensi yang tersirat dalam Budaya Ain Ni Ain itu sendiri.

Sebelum menutup, ada juga pesan leluhur yang sampai kini masi terngiang dalam benak Masyarakat Kepulauan Kei yakni pesan tersebut berisi “VU’T AIN MEHE NI NGIVUN, MANUT AIN MEHE NI TILUR” Artinya: Satu Ikan Punya Hati, Satu Ayam Punya Talor, slogan ini memiliki Filosofis semua orang atau Masyarakat Kepulauan Kei itu berasal dari satu sumber peciptaan yang sama. Pesan tersebut mengisyaratkan tentang nilai kemanusiaan, sehingga Budaya Ain Ni Ain apabilah di implementasikan berdasarkan sejarahnya Ain Ni Ain hanya berperan memepersatukan Masyarakat dari Kepulauan Kei saja. Tetapi jika di implementasikan berdasarkan Nilai atau Esensinya, maka Ain Ni Ain tidak hanya berperan mempersatukan Masyarakat Kepulauan Kei saja melainkan juga berperan untuk semua umat tanpa melihat suku, ras dan agamanya. Sehingga Ain Ni Ain bukan hanya slogan dan simbol Budaya melainkan juga bisa diartikan sebagai slogan perekat kemanusiaan. Tidak lupa penulis juga mengutip salah satu tokoh sosiolog Edward Burnett Tylor (1832-1921) Menurut Tylor, kebudayaan adalah sistem kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan, serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Penutup, dari gambaran sekaligus penjelasan singkat diatas dapat dipahami bahwa leluhur di Kepulauan Kei telah mewariskan Budaya yang berisi tentang Nilai toleransi beragama, suku, ras dan toleransi kemanusiaan. Artinya: sudah dari zaman dahulu Kepulauan Kei mengenal tentang toleransi, dapat kita pahami melalui warisan Budaya yang ditinggalkan oleh leluhur. Penulis juga berharap seiring dengan mengalirnya perkembangan zaman yang terjadi perlu adanya diperhatikan dengan seksama dalam implementasi Budaya Ain Ni Ain agar tidak menyalahi Nilai dan Esensi yang terkandung di dalamnya Ain Ni Ain tersebut. Menurut penulis, melalui Nilai atau Esensi dari Budaya Ain Ni Ain Masyarakat dan Mahasiswa di daerah perantauan dapat membanggakan dan mengharumkan nama Kepulauan Kei dengan sikap toleransi beragama dan sikap toleransi kemanusiaan yang tinggi sesuai dengan Esensi yang terkandung dalam Budaya Ain Ni Ain tersebut. Jika Budaya Ain Ni Ain dibangun dengan sikap fanatik tanpa di sadari membangun sebuah stigma yang buruk tentang Kepulauan Kei dalam benak suku dan ras lain. Demikian tulisan singkat ini semoga bermanfaat bagi khalayak yang membacanya, penulis juga menerima kritikan, masukan serta saran dari teman-teman semua. Mari diskusi yang saling  mengisi agar membangun dan mengembangkan Budaya kita bersama, jikalau bukan kita yang memperhatikan Budaya siapa lagi.

“SALAM HORMAT.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“KORUPSI ADALAH ISU KEBANGSAAN”

M. Ali Hanafi Katmas, S.Sos (KABID KADERISASI & IDEOLOGI DPC AMBON) Pada kesempatan kali ini Tema Korupsi sebagai objek pembahasan, kena...