Sabtu, 18 Desember 2021

"TRANSFORMASI BUDAYA YELIM DI KEPULAUAN KEI"


Moh Ali Hanafi Katmas, S.Sos
(ALUMNI IAIN AMBON)


Sebelum masuk pada pembahasan, penulis akan menggambarkan sedikit tentang apa itu Transformasi. Transformasi adalah perubabahan rupa entah itu bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya. Transformasi bisa diartikan banyak untuk lebih lengkap mengenai arti bisa dilihat dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI). Transformasi sering digunakan seseorang dalam menilai budaya orang lain, misalnya: dulunya pasca pernikahan Budaya Tarian Samra Klasik sering jadikan sebagai acara hiburan, tetapi seiring mengalirnya perubahaban Budaya Tarian Samra Klasik berganti dengan joget-jogetan. Adapun menurut Anthony Antoniades,1990. Transformasi adalah sebuah proses perubahan secara berangsur-angsur sehingga sampai pada tahap ultimate, perubahan dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan.


Kepuluan Kei adalah gugusan pulau di kawasan Tenggara  yang kini termasuk dalam Wilayah Provinsi Maluku, Sejak dulu Kepulauan Kei tersohor sebagai kepulauan yang kaya akan Budaya. Dan kali ini penulis, mengambil salah satu Budaya yang akan dibahas yakni. Budaya Yelim. Dan penulis membahasnya di sini bukan hanya sebatas Prakteknya melainkan juga Nilai Filosofis atau Esensinya dari Budaya Yelim itu sendiri, secara Praktek Budaya Yelim pada masyarakat Kepulauan Kei adalah memberi bantuan berupa materi kepada orang lain dengan di dorong hati yang ikhlas dan tulus. Suatu materi/barang yang bermanfaat seperti uang, beras, terigu, minyak goreng,  gula, daun teh dan lain sebagainya. Budaya Yelim secara Nilai Filosofis atau Esensi adalah membantu orang lain yang juga bisa artikan sebagai Maren atau Bergotong Royong bahu membahu dan saling melengkapi  berupa materi untuk membantu bagi yang membutuhkan. Contohnya: Apabila seseorang sudah memberi uang, maka yang lainnya memberi beras dan seterusnya untuk melengkapi bagi yang hendak diberi bantuan Yelim. Lalu kenapa Budaya Yelim harus di Transformasikan?


Fenomena Budaya Yelim yang di sering kali di Praktekan pada khalayak masyarakat Kepulauan Kei adalah Budaya Yelim hanya di fokuskan memberi bantuan pada hajatan, semisalnya: proses hajatan pernikahan, sunatan dll. Menurut penulis Budaya Yelim secara praktek juga harus di ikut sertakan dalam mendorong pendidikan bagi keluarga yang kurang mampu membiayai anaknya di Kepulauan Kei. Mengapa harus Budaya Yelim mendorong  pendidikan?. Sebab Budaya Yelim bukan hanya sekadar memberi  membantu berupa materi atau barang dengan dorongan hati yang ikhlas dan tulus, melainkan harus di pamahi Nilai Filosofis atau Esensi dari Budaya Yelim itu sendiri apakah sudah di sesuaikan dengan mengalirnya perubahan yang terjadi?. Kerena kembali lagi pada tuntutan perubahan, dimana kita mengeketahui bersama biaya pendidikan S1, S2 dan seterusnya makin mahal sehingga melilit leher kalangan keluarga yang kurang mampu di Kepulauan Kei, dan kita ketahui bersama bahwasanya pendidikan merupakan faktor utama dalam menunjang masa depan seseorang yang lebih baik serta menyiapkan regenerasi yang cerdas maupun bijaksana untuk mampu mengelolah daerahnya dikemudian hari. Dapat di ketahui Nilai Filosofis atau Esensi membantu dari Budaya Yelim itu sendiri adalah yang bermanfaat bagi seseorang, maka apa yang sungguh bantuan yang mendasar dan bermanfaat di tengah perkembangan zaman yang terjadi. Sudah barang tentu pendidikan merupakan kebutuhan yang fundamental untuk menjamin masa depan seseorang, tidak menghrankan lagi sudah menjadi hal yang lumrah bahwa kurangnya kesadaran dan perhatian pemerintah untuk tidak terlibat dalam mendorong  pendidikan, bagi kalangan keluarga yang kurang mampu untuk membiayai pendidikan anaknya yang lebih tinggi di kepulauan Kei.


Dari penjelasan singkat penulis di atas dapat kita mengetahui bersama, apabilah Budaya Yelim pada Kepulauan Kei secara Konsep Praktek dan Nilai Filosofis atau Esensinya harus di Transformasikan sesuai dengan berkembangnya perubahan yang terjadi. Tak lupa pula membangun kesadaran masyarakat Kepulauan Kei dan dorongan akan tuntutan proses perubahan zaman, maka melalui Nilai Filosofis atau Esensi dari Budaya Yelim masyarakat juga turut menerapkan Konsep Maren atau Gotong Rorong dalam bahu membahu membantu keluarga yang kendala pada biaya pendidikan anaknya yang hendak menempu pendidikan yang lebih tinggi, sehingga masyarakat Kepulauan Kei kurang mampu tidak hanya berharap pada pemerintah.  Dikarenakan uluran tangan dari sesama masyarakat melalui Budaya Yelim secara Praktek dan Nilai Filosofis atau Esensi yang di Transformasikan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga tanpa kita sadari Budaya Yelim mampu mendorong pendidikan serta turut menyiapkan masa depan bagi sang anak, keluarga dan juga Tongkat Estafet bagi daerah serta meningkatkan SDM di Kepulauan Kei.


Penutup, penulis berharap dari tulisan singkat ini mampu membangun kesadaran kita bahwa di tengah Transfomasi yang terjadi. Budaya Yelim merupakan warisan leluhur yang harus kita lestarikan sesuai dengan tuntutan perubahan, harapan penulis Budaya Yelim bukan hanya sekedar mempraktekkan tanpa memperhatikan Nilai-Nilai Filosofis dan Esensinya tak lupa juga mengikuti tuntutan proses perkembanga zaman. Sehingga di butuhkan kesadaran bersama dari lembaga-lembaga toko adat maupun pemerintahan agar mampu berkalaborasi untuk menciptakan suatu sistem yang berlandaskan Nilai Filosofis dan Esensi dari Budaya Yelim agar mampu berkontribusi memudahkan bagi masyarakat Kepulaun Kei dari segi menunjang membiayai pendidikan anak-anaknya entah S1, S2 maupun jenjang pendidikan yang lebih tinggih.


Praktek dari suatu Budaya boleh saja di Upgrade berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan zaman, selama itu tidak menyalahi prinsip Nilai-Nilai Filosofis dan Esensi dari Budaya tersebut maka tidak menjadi problem. Sebab sebaik-baiknya Budaya adalah Budaya yang memiliki Nilai Filosofis dan Esensinya yang memanusiakan sesama manusia, karena suatu Budaya akan hidup apabila Esensinya turut serta dalam membangun perdaban umat manusia. Maka dari itu mari kita sama-sama mengembangkan Budaya bukan hanya dari Konsep Prakteknya tetapi juga Konsep Nilai Filosofis dan Esensi dari Budaya tersebut. Adapun penulis juga berharap bagi pembaca dapat memberikan kritikan, sanggahan, saran dan juga masukan agar kita semua turut terlibat dalam melestarikan Budaya-Budaya yang berada di Kepulauan Kei sesuai dengan Transformasi zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“KORUPSI ADALAH ISU KEBANGSAAN”

M. Ali Hanafi Katmas, S.Sos (KABID KADERISASI & IDEOLOGI DPC AMBON) Pada kesempatan kali ini Tema Korupsi sebagai objek pembahasan, kena...